»
S
I
D
E
B
A
R
«
THE CUSTOMER’S SATISFACTION: Sebuah Tinjauan Manajemen Peningkatan Kepuasan Pelanggan di Rumah Sakit- Respon untuk Dodo
Aug 28th, 2008 by cokroaminoto

The ’s was a situation where the wish, hope and the requirement for the were filled. A was considered satisfactory when this could satisfy the requirement and hope of the . The grating of the ’s was the important element in providing the better, more efficient and more effective . If the felt unsatisfied towards a that was provided, then this could be it was confirmed ineffective and inefficient. This was especially very important for the public’s . The level of the ’s towards the was the factor that was important in developing a provisions system of the that was preceptive towards the requirement for the , minimising the cost and time as well as maximising the impact of the towards the target population (Triatmojo, 2006). In order to develop the mechanism of giving of the that satisfied the requirement, the wish and hope of the , must know what yng was thought about by the about the kind, the form and the person that gave the .

adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan dipenuhi. Suatu dinilai memuaskan bila tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan . Pengukuran merupakan elemen penting dalam menyediakan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif. Apabila merasa tidak puas terhadap suatu yang disediakan, maka tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Hal ini terutama sangat penting bagi publik.


Tingkat terhadap merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistim penyediaan yang tanggap terhadap kebutuhan , meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak terhadap populasi sasaran (Triatmojo, 2006). Dalam rangka mengembangkan mekanisme pemberian yang memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan , perlu mengetahui apa yng dipikirkan tentang jenis, bentuk dan orang yang memberi .

Mengukur di Rumah Sakit

adalah indikator pertama dari standar suatu rumah sakit dan merupakan suatu ukuran mutu . yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan yang akan mempengaruhi provitabilitas rumah sakit, sedangkan sikap karyawan terhadap juga akan berdampak terhadap dimana kebutuhan dari waktu ke waktu akan meningkat, begitu pula tuntutannya akan mutu yang diberikan.

, sangat berhubungan dengan kenyaman, keramahan, dan kecepatan . , merupakan indikator yang berhubungan dengan jumlah keluhan atau keluarga, kritik dalam kolom surat pembaca, pengaduan mal praktek, laporan dari staf medik dan perawatan dsb.

Bentuk kongkret untuk mengukur rumah sakit, dalam seminar survai di RS, Junadi (2007), mengemukakan ada empat aspek yang dapat diukur yaitu: Kenyamanan, Hubungan dengan petugas, kompetensi petugas dan biaya.

  1. Kenyaman, aspek ini dijabarkan dalam pertanyaan tentang lokasi rumah sakit, kebersihan, kenyamanan ruangan, makanan dan minuman, peralatan ruangan, tata letak, penerangan, kebersihan WC, pembuangan sampah, kesegaran ruangan dll.
  2. Hubungan dengan petugas Rumah Sakit, dapat dijabarkan dengan pertanyaan yang menyangkut keramahan, informasi yang diberikan, sejauh mana tingkat komunikasi, responsi, support, seberapa tanggap dokter/perawat di ruangan IGD, rawat jalan, rawat inap, farmasi, kemudahan dokter/perawat dihubungi, keteraturan pemberian meal, obat, pengukuran suhu dsb.
  3. Kompetensi teknis petugas, dapat dijabarkan dalam pertanyaan kecepatan pendaftaran, ketrampilan dalam penggunaan teknologi, pengalaman petugas medis, gelar medis yang dimiliki, terkenal, keberanian mengambil tindakan, dsb.
  4. Biaya, dapat dijabarkan dalam pertanyaan kewajaran biaya, kejelasan komponen biaya, biaya , perbandingan dengan rumah sakit yang sejenis lainnya, tingkat masyarat yang berobat, ada tidaknya keringan bagi masyarakat miskin. Dsb.

mencerminkan mutu Rumah sakit

Dalam konsep quality assurance (QA), dipandang sebagai unsur penentu penilaian baik buruknya sebuah rumah sakit. Unsur penentu lainnya dari empat komponen yang mempengaruhi adalah: aspek klinis, efisiensi dan efektivitas dan keselamatan . Aspek Klinis, merupakan komponen yang menyangkut dokter, perawat dan terkait dengan teknis medis. Efisiensi dan efektivitas, menunjuk pada yang murah, tepat guna, tidak ada diagnosa dan terapi yang berlebihan. Aspek Keselamatan , adalah upaya perlindungan dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan , seperti jatuh, kebakaran, dll. , sangat berhubungan dengan kenyaman, keramahan, dan kecepatan .

Jaminan mutu di Rumah Sakit (RS) merupakan salah satu faktor penting dan fundamental khsususnya bagi manajemen RS itu sendiri dan para stakeholdernya, pasalnya dampak dari QA menentukan hidup matinya sebuah rumah sakit. Bagi Rumah Sakit, adanya QA yang baik tentu saja membuat RS mampu untuk bersaing dan tetap exist di masyarakat. Bagi , QA dapat dijadikan sebagai faktor untuk memilih RS yang bermutu dan baik. Bagi praktisi medis, selain terikat dengan standar profesinya, dengan adanya QA para praktisi medis dituntut untuk semakin teliti, telaten, dan hati2 dalam menjaga mutu pelayanannya. Dan bagi pemerintah sendiri, adanya QA dapat menjadikan standar dalam memutuskan salah benarnya suatu kasus yang terjadi di Rumah sakit (Heriandi, 2007)

Related posts

»  Substance: Free Education Blog  »  Style: Ahren Ahimsa