»
S
I
D
E
B
A
R
«
BELAJAR DARI GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN: Respon untuk Vensy
February 22nd, 2008 by cokroaminoto

Banyak pendekatan dalam gaya guna meningkatkan . Dewasa ini, banyak konsep tentang gaya yang dapat meningkatkan . Dimulai dari konsep yang paling klasik sampai teori modern, yaitu teori situasional yang disampaikan Hersey and Blancard.

Gaya Situaasional
Belajar dari konsep Hersey and Blancard, perilaku dan gaya bersifat situasional. Pemimpin atau manajer harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan kematangan, kemampuan dan minat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dalam hal ini, respon seorang manajer dalam perilaku kepemimpinannya memberikan sejumlah pengarahan dan dukungan yang bersifat sosioemosional. Sementara itu, manajer harus menyesuaikan tingkat kematangan .
Tingkat kematangan (maturity), diartikan sebagai tingkat kemampuan untuk bertanggung jawab dan mengarahkan perilakunya dalam bentuk kemauan. Berdasarkan tingkat kematanganya, menurut Hersey and Blancard ada empat jenis , yaitu: (1) karyawaan yang tidak mampu dan tidak mau, (2) karyawaan yang tidak mampu, tetapi mau, (3) karyawaan yang mampu, tetapi tidak mau, (4) karyawaan yang mampu dan mau.

Mengarahkan (telling)
Ada empat respon dalam mengelola berdasarkan tingkat kematangan , yaitu mengarahkan, menjual, menggalang partisipasi dan mendelegasikan.Gaya yang mengarahkan, merupakan respon yang perlu dilakukan oleh manajer pada kondisi lemah dalam kemampuan, minat dan komitmenya. Sementara itu, organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas yang tinggi. Dalam situasi seperti ini Hersey and Blancard menyarankan agar manajer memainkan peran directive yang tinggi, memberi saran bagaimana menyelesaikan tugas-tugas itu, tanpa mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara pimpinan dan bawahan.

Menjual (selling)
Pada kondisi menghadapi kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, takut untuk mencoba melakukannya, manajer juga harus memproporsikan struktur tugas dengan tanggungjawab . Selain itu, manajer harus menemukan hal-hal yang menyebabkan tidak termotivasi, serta masalah-masalah yang dihadapi .
Pada kondisi sudah mulai mampu mengerjakan tugas-tugas dengan lebih baik, akan memicu perasaan timbulnya over confident. Kondisi ini, memungkinkan menghadapi permasalahan baru yang muncul. Masalah-masalah baru yang muncul tersebut, seringkali menjadikannya putus asa. Oleh karena itu, setelah memberikan pengarahan, manajer harus memerankan gaya menjual. Dengan mengajukan beberapa alternatif pemecahan masalah.

Menggalang partisipasi (participation)
Gaya partisipasi, adalah respon manajer yang harus diperankan ketika tingkat kemampuan akan tetapi tidak memiliki kemauan untuk melakukan tanggung jawab, karena ketidakmauan atau ketidakyakinan mereka untuk melakukan tugas/tangung jawab seringkali disebabkan karena kurang keyakinan. Dalam kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah dan secara aktif mendegarkan mendukung usaha-usaha yang dilakukan para bawahan/pengikutnya.

Mendelegasikan (delegating)
Selanjutnya, untuk tingkat dengan kemampuan dan kemauan yang tinggi, maka gaya yang sesuai adalah gaya “delegasi”Dengan gaya delegasi ini pimpinan sedikit memberi pengarahan maupun dukungan, karena dianggap sudah mampu dan mau melaksanakan tugas/tanggung jawabnya. Mereka diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan memutuskannya tentang bagaimana, kapan dan dimana pekerjaan mereka harus dilaksanakan. Pada gaya delegasi ini tidak terlalu diperlukan komunikasi dua arah.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • co.mments
  • HealthRanker
  • MyShare
  • NewsVine
  • Print
  • Socialogs
  • Webnews.de

Related posts


28 Responses  
Pooh writes:
March 16th, 2008 at 11:53 pm

Saya mhsiswi SI sedang menyusun TA tentang komunikasi dan gaya kepemimpinan mohon bantuannya untuk kuisionernya,terima kasih.

cokroaminoto writes:
March 18th, 2008 at 2:18 am

Pooh, terimakasih. Kuesioner atau instrumen penelitian dikembangkan dari variabel yang hendak dikumpulkan. Sehingga maaf Pooh, menurut saya, kita tidak dapat secara otomatis menggunakan kuesioner yang sudah ada. Untuk itu, Pooh perlu fokus pada masalah penelitian dan tujuan yang akan anda capai. Kemudian melalui penelusuran kepustakaan anda akan memperoleh kerangka konsep dan variabel-variabel penelitian. Dari situlah kemudian Pooh mulai menyusun instrumen penelitian. Ingat, instrumen penelitian tidak selalu berbentuk kuesioner lho. Tergantung dari metode pengumpulan data yang anda gunakan. Demikian semoga bermanfaat.

Nila writes:
March 19th, 2008 at 3:42 am

Saya lagi bikin tesis mengenai kepemimpinan,motivasi, budaya organisasi
terhadap kinerja guru.untuk itu saya mohon bantuannya untuk menyusun kuisioner.

Terima Kasih,

cokroaminoto writes:
March 23rd, 2008 at 2:35 pm

Nila,terimakasih. Kalau anda sudah serius dg variabel penelitian tsb, maka kuesioner atau instrumen penelitian, harus anda kembangkan dari indikator2 yg kita tetapkan untuk mengukur masing2 variabel. Oleh karena itu, instrumennya bisa jadi bukan kuesioner, tetapi dpt berupa lembar observasi. Hal-hal di atas dapat anda ketahui setelah melakukan penelusuran pustaka secara memadai. Untuk ini Nila jangan tergesa2, tetapi serius dan jangan berhenti. untuk mencari terus sumber-sumber pustaka yg relevan. Demikian, semoga bermanfaat.

Sapto writes:
April 14th, 2008 at 8:33 pm

Mas, saya barusan googling, nyasar di website sini.

Saya kebetulan lagi mengerjakan skripsi saya yg berjudul Hubungan antara Gaya Kepemimpinan Manajer terhadap Motivasi Kerja Karyawan.

Yg saya ingin tanyakan, saya tidak spesifik mengupas salah satu teori dari gaya kepemimpinan, melainkan mencampurnya semua atas nama gaya kepemimpinan. Menurut dosen pembimbing saya tidak apa-apa. Menurut mas bagaimana ? Apakah saya harus fokus pada satu teori saja apa sah-sah saja mencampurnya semua ?

Terima Kasih.

cokroaminoto writes:
April 16th, 2008 at 11:59 am

Sapto, terimakasih. Saya sependapat. Agar dapat mewakili seluruh gaya kepempinan, andapun tetap membahasnya masing-masing, dalam tijauan pustaka. Kemudian dari karakteristik masing2 gaya tsb, merupakan bahan untuk mengembangkan instrumen penelitian. Demikian semoga bermanfaat.

Sapto writes:
April 17th, 2008 at 6:20 pm

Wah terima kasih mas sudah dijawab.

Menurut mas judul saya itu sudah baik dan berhubungan belum ? Tidak terlalu melenceng antara variabel X : Gaya Kepemimpinan dan variabel Y : Motivasi Kerja kan ?

Nah mas, ketika saya sidang skripsi nanti, apakah lebih baik saya membahas semua gaya itu ?

Saya sih rencananya setelah kuesioner nanti dapat dan saya olah, saya baru menyimpulkan, sebenernya gaya apakah yg dipakai oleh manajer perusahaan itu. Sehingga nanti saya bisa mendapatkan satu gaya yg menjadi kesimpulan skripsi saya.

cokroaminoto writes:
April 18th, 2008 at 5:39 am

Sapto, terimakasih. Buatlah daftar seluruh gaya kepemimpinan itu, kemudian kumpulkan data penelitian di lokasi. Hasilnya pastilah akan mengarah pada gaya-gaya kepemimpinan yang ada. Selanjutnya, lakukan uji hubungan dengan variabel kinerja. Gaya kepemimpinan yang memiliki hubungan kuat itu lah yang anda temukan. Tapi ingat, jika pola kepemimpinanya beragam, mungkin anda akan menemukan gaya kepemimpinan lebih dari satu. Hal ini tidak masalah. Ok, selamat melakukan penelitian. Semoga bermanfaat.

diyan writes:
May 7th, 2008 at 3:57 am

mas, saya sedang mencari judul untuk skripsi kebetulan saya menemukan tema tentang hubungan budaya organisasi terhdap kinerja karyawan pt x surabaya. saat ini saya sedang mencari jurnal, teori dan hal-hal yang terkait dengan tema saya tersebut. tetapi menurut saya budaya organisasi disitu masih terlalu luas,apakah bisa dispesifikan lagi?mohon bantuannya dalam mencari teori-teori tersebut.trims

cokroaminoto writes:
May 7th, 2008 at 4:17 am

Diyan, terimakasih. Untuk jurnal dan sumber online di internet tentang perilaku organisasi (organizational behavior), anda bisa klik di blogroll blog ini.
Semoga bermanfaat.

omes writes:
May 12th, 2008 at 9:58 am

bisa tolong beripengertian perbedaan prinsip kepemimpinan directive dan participative??

cokroaminoto writes:
May 12th, 2008 at 8:10 pm

Omes, terimakasih. Pendekatan kepemimpinan direktif, lebih dominant memberikan perintah (direction). Komunikasinya bersifat satu arah, dari manajer ke karyawan. Sementara itu, pendektn partisipatif, lebih bersifat konsultatif. Komunikasi terjadi dua arah.
Demikian, semoga bermanfaat.

atik writes:
May 24th, 2008 at 12:34 pm

Assalamu’alaikum, wr.wb
saya melihat begini pa, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang disegani bukan untuk di takuti. apabila orang segani pasti karyawane rajin-rajin, tapi kalu di takuti yang ada, karyawan kerja dengan keterpaksaan, dan biasanya banyak umpatan-umpatan di belakang, bahkan menimbulkan dendam.
Jadi bagi para pemimpin-pemimpin JADILAH PEMIMPIN YANG ARIF BIJAKSANA, MEMANDANG KEBAWAH JGN SELALU MELIHAT KEATAS TERUS!!! DAN BAGI PARA PEMIMPIN YANG DZOLIM BERTOBATLAH!!! JO GALAK-GALAK. TAPI HARUS BERSIKAP TEGAS. BETUL TIDAK?
Wassalam

cokroaminoto writes:
May 25th, 2008 at 1:46 pm

Atik, terimakasih. Dari sudut pandang management, memang ada dua gaya kepemimpinan yg ekstrim. Keduanya, yg berorientasi ke penyelesaian tugas dan yg berorientasi pd manusia, pada akhirnya kurang efektif. Yg satu, kelewat keras, satunya lagi kelewat lamban. Sehingga ada posisi manager disarankan mengambil grid tengah ygnoptimum. Artinya dalam rangka menyelesaikan tugas yg diserahkan karyawan, seorang manajer tetap harus memperhatikan aspek manusianya. Dalam hal ini, kebutuhan2nya, nilai2, dan harapannya.

era writes:
May 27th, 2008 at 7:29 am

assalamuala’ikum wr.wb
Kalau menurut saya y pak seorang pemimpin yang baik itu harus bisa menerapkan falsafah-falsafah seperti:
-ing ngarso sung tulodho
-ing madyo mangun karso
-tutwuri handayani
Pada intinya y memiliki semua gaya kepemimpian sperti yg bpk tuliskan di atas.
wassalamu’alaikum wr.wb.

cokroaminoto writes:
May 28th, 2008 at 4:35 am

Era, terimakasih atas komentarnya.

dwZset022 writes:
May 31st, 2008 at 1:53 am

ASS
kepemimpinan.
saya sepertinya setuju dengan gaya kepemimpinan situasional yang mencoba mengkombinasikan proses kepemimpinan dengan situasi dan kondisi yang ada. tapi pa dw pernah belajar sedikit tentang dien islam yng membahas tentang kekhilafahan dlm islam alias kepemimpinana dalam konsep islam, lain waktu tak simpan di commen ini y pak.
pa da perdebatan yg sampai sekarang blm pas jawabannya bg dw bs dijawab / diklarifikasi “sistim atau orang yng hrs di didahulukan u/ di bentuk dlm menciptakan sebuah kepemimpinan?” ttd: dewi siti F 2a STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG

.

cokroaminoto writes:
May 31st, 2008 at 5:11 pm

dwZset022, terimakasih. Saya tunggu komentar berikutnya.
Untuk pertanyaan anda, sistem atau manusia? Inti dasar dari seluruh proses management adalah manusia.

apri hartanti writes:
June 25th, 2008 at 7:22 am

assalamu’alaikum pak,,,
sugeng sonten…
pun dahar nopo derengh???????????
kulo anjeng koment
tapi saderengipun kulo nyuwun ngapunten ne koment kulo mboten nyambung
ne menurut kulo gaya kepemimpinan sing sae niku demokratis
ne enten masalah dirembug bareng 2 anggota tim
supados mboten enten salah pahamteras informasi mboten simpang siur
teras maringi wewenang ingkang luas 2 bawahan inggih meniko tugas lan tanggung jawab para bawahan
cekap sa menten riin nggih pak koment saking kulo
niki enten pantun kangge bapak
“…kupat kecemplung santen…”
“…sedoyo lepat nyuwung agunging pangapunten…”

Agustini 2a writes:
June 26th, 2008 at 6:27 am

Ass….pa kemari qt warga jateng tlh melaksanakan pesta demokrasi. pemilihan pemimpin jateng selama 5 tah kedepan. kami berharap kepemimpinan jateng akan lebih baik dari yang sebelumnya. TAPI secara nalar saya apa yng telah dicapai o/ pemimpin sebelumnya hingga skrg blm memenuhi suara hati rakyat serasa pemimpin itu pengayomannya tdk dapat kami rasakan dan pada akhirnya sepengamatan saya bnyk org yang tdk mencoblos dan golput bahkan sudah tau visi misinya pun byk yang masih ragu dan bingung ( saya ingin pemimpin yang seperti apa? dan ingin perbaikan apa u/ jateng ?) rasanya gaya kepemimpinan yang bp ungkapkan blm bs saya lihat di area kepemmpinan di jateng. apa memang tdak sesuai utk diterapkan diarea pemerintahan??? atau hanya bisa diaplikasikan di dunia perusahaan saja???
dan para golput hanya bisa pasrah dlm keadan. ganti2 pemimpin rasanya sudah biasa dan tak istimewa. trima kasih www

evi triana writes:
June 26th, 2008 at 6:33 am

saya lebih condong ke gaya kepemimpinan situasional yang mudah berubah karena diri kita selama hidup pasti selalu memngalami perubaha yang tak pasti dan pada akhirnya qt harur mengikuti atau yang membuat perubaha itu

cokroaminoto writes:
June 28th, 2008 at 4:19 am

Akhyan Mujnazi Attabi, Apri Hartanti, evi triana, terimakasih komentarnya. Artinya pemimpin yang anda lihat sekarang, masih jauh dari teori kepemimpinan itu?

Arif Lukman Hakim writes:
June 28th, 2008 at 6:26 pm

Saya Mahasiswa S1 sedang mengerjakan Skripsi

cokroaminoto writes:
July 2nd, 2008 at 5:17 am

Arif Lukman Hakim, terimakasih atas kunjungannya. Selamat. Kalau mungkin ada yang bisa saya bantu?

erjhe sulistyo writes:
August 22nd, 2008 at 5:50 am

trim ya, aku lagi cari bahan unyuk kasih diklat. tulisan ini sangat membantu. PF.

cokroaminoto writes:
August 22nd, 2008 at 10:53 am

erjhe sulistyo, terimakasih.
Bersyukur kalau anda memperoleh manfaat dari tulisan ini.

roze writes:
October 31st, 2008 at 1:53 am

assalamualaikum
kenalkan, saya mahasiswi S1 saya sedang melaksanakan skripsi tentang penerapan e-learning terhadap peninggakatan kinerja karyawan perusahaan. mohon bantuannya dalam pembuatan kuesioner dan pembuatan pedoman wawancara, adakah rekomendasi yang bisa saya cari. terima kasih sebelumnya…

cokroaminoto writes:
January 28th, 2009 at 1:34 am

Roze, terimakasih. Maaf responnya sangat terlambat, karena banyak acara offline. Untuk sumber belajar online peningkatan kinerja staff/karyawan anda bisa kunjungi performance management.
Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

»  Substance: Free Education Blog  »  Style: Ahren Ahimsa